NANA

*** just an ordinary woman… who wants to be useful to people arround her ***

Senang dan Sedih

Dua rasa itu… kurasakan dalam waktu sehari…

Senang…
karena pagi tadi ketika aku lihat pengumuman hasil test di EEC Sanata Dharma… aku diterima… duuuhhh… seneng banget rasanya… sejak aku lihat nomor ujianku ada di daftar peserta yang lulus test… ucapan terimakasihku ke Tuhan meluncur terus menerus dari mulutku… Terimakasih Tuhan… Terimakasih Tuhan… Terimakasih… Terimakasih… Terimakasih…
Sudah lama aku ingin bisa ikut EEC ini… Dulu… beberapa tahun lalu… aku pernah coba ikutan test ini… tapi gagal… dan sekarang… di kesempatan kedua… saat aku berharap aku bisa berhasil… aku diterima…!!! Makanya aku seneeeeeeennnnnngggggggg banget rasanya…. :) Tinggal ngejalanin dengan baik nih… jangan sampe putus di tengah jalan… apa yg aku impiin dr dulu2… hrs bisa bagus hasil akhirnya… Makanya… Semangat Nana..!!!! Semangat sampe semua tercapai… !!! Cia yo… :)

Sedih…
ternyata… sore ini aku baru tau… aku orang yg buruk banget di mata seseorang… orang yg nggak bisa diajak ngomong… atau kalau toh diajak ngomong… pasti akan marah besar… begitu katanya… Duuuuhhhhh… buruk banget sih Nana nih… Otoriter dong kalo gitu… ato big bos mafia… yg kalo ada salahnya orang laen dikit… dibacok deh kepala… makanya nggak bisa diajak ngomong… salah2 kepala bisa ilang soalnya… :( duuuhhh Tuhan… apa iya sih aku segitu jahatnya… pemarahnya… kalo toh itu hanya kpd seseorang itu… tidak kepada orang laen… apa yg salah dong??

Please dong… yg tau ttg aku… kasih komentar…

31 Comments
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com

Apakah Kejahatan Itu Ada?

(Kisah Nyata)

 

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada?

Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini,

“Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.

“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti

Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada,

dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita,

jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor

tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri

bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya

bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak

pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.

Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas.

Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali.

Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut.

Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”

Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga

tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya.

Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak.

Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi

beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna.

Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah

kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak

perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara

tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda

salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan.

Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

22 Comments
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com

Cukur Gratis

Ada seorang tukang cukur tua yang baik hati di sebuah kota di United States .

Suatu hari seorang penjual bunga datang kepadanya untuk memotong rambut.

Selesai potong rambut, dia bermaksud membayar tetapi tukang cukur menjawab:

“Maaf, saya tidak dapat menerima uang darimu. Saya melakukan pelayanan”.

Sipenjual bunga sangat gembira dan meninggalkan tukang cukur tersebut.

Pada keesokan paginya, ketika si tukang cukur membuka toko, ada sebuah

kartu ucapan terima kasih dan selusin bunga mawar yang telah menanti di

depan pintu.

Seorang polisi datang untuk potong rambut dan dia pun bermaksud membayar

setelah selesai dipotong rambutnya. Tetapi, si tukang cukur pun menjawab:

“Maaf, saya tidak dapat menerima uang darimu. Saya melakukan pelayanan”.

Si polisi pun sangat gembira dan meninggalkan tukang cukur tersebut.

Pada keesokan paginya, ketika si tukang cukur membuka toko, ada sebuah

kartu ucapan terima kasih dan selusin donat yang telah menanti didepan pintu.

Di hari berikutnya datanglah seorang software engineer dari Indonesia

untuk potong rambut, ketika dia hendak membayar, si tukang cukur pun

menjawab: “Maaf, saya tidak dapat menerima uang darimu. Saya melakukan

pelayanan”. Si software engineering dari Indonesia pun amat sangat

gembira dan meninggalkan tukang cukur tersebut.

Pada keesokan paginya, ketika si tukang cukur membuka toko,

naa……..coba tebak !!!

Apa yang tukang cukur temukan di depan pintu???

Dapatkah kamu menebaknya ???????????

Apakah kamu belum tau jawabannya????????????

Ayo lah. Berpikirlah seperti orang indonesia ….!!!!!!

Ok………….oke……………….

Selusin orang Indonesia telah menunggu untuk potong rambut GRATIS !!!!!!!!!

22 Comments
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com

Why I Love Mom

Mom and Dad were watching TV when Mom said,
“I’m tired, and it’s getting late. I think I’ll go to bed.”
She went to the kitchen to make sandwiches for the next day’s lunches.

Rinsed out the popcorn bowls, took meat out of the freezer for
supper the following evening, checked the cereal box levels, filled the
sugar container, put spoons and bowls on the table and started the
coffee pot for brewing the next morning.

She then put some wet clothes in the dryer, put a load of clothes
into the washer, ironed a shirt and secured a loose button.

She picked up the game pieces left on the table, put the phone back
on the charger and put the telephone book into the drawer.

She watered the plants, emptied a wastebasket and hung up a towel
to dry.

She yawned and stretched and headed for the bedroom.
She stopped by the desk and wrote a note to the teacher,
counted out some cash for the field trip,
and pulled a text book out from hiding under the chair.

She signed a birthday card for a friend, addressed and stamped the
envelope and wrote a quick note for the grocery store. She put both
near her purse.

Mom then washed her face with 3 in 1 cleanser, put on her, night
solution & age fighting moisturizer, brushed and flossed her teeth and
filed her nails.

Dad called out, “I thought you were going to bed.”

“I’m on my way,” she said.

She put some water into the dog’s dish and put the cat outside,
then made sure the doors were locked and the patio light was on.

She looked in on each of the kids and turned out their bedside lamps
and TV’s, hung up a shirt, threw some dirty socks into the hamper, and
had a brief conversation with the one up still doing homework.

In her own room, she set the alarm; laid out clothing for the next day,
straightened up the shoe rack. She added three things to her
six most important things to do list. She said her prayers,
and visualized the accomplishment of her goals.

About that time, Dad turned off the TV and announced to no one in
particular. “I’m going to bed.”

And he did…without another thought…

19 Comments
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com

R U Indonesian..??

Memandang Indonesia dari sisi lain, entah ngeledek ato bangga, tapi menggelitik. ….

Anda orang Indonesia ? Masih tinggal di Indonesia ? Di Jakarta?

Ke kantor naik bis umpel-umpelan? Lalu lintas macet?
Pernah Naik kereta super ekonomi ke Yogya or Surabaya ?
Pernah kebanjiran? Pernah dipalakin di bus sama gerombolan preman?

Ok, sekarang saya serius.
Kalau Ada yang bertanya: apa sih yang bisa dibanggakan for being Indonesian?
Maka jawaban saya adalah : Kita.

Kita harus bangga karena kita orang Indonesia Bisa dan Biasa hidup susah!!!

Becanda lagi nih? Nggak, saya Serius!! Saya nggak boong.

Kalau saya bohong biarkan Tuhan memberikan cobaan yang berat pada saya (red : katanya harta berlimpah merupakan cobaan yang berat) Kemampuan untuk hidup susah (saya sebut aja “survival ability” ya) tidak dimiliki orang-orang yang lama hidup di negara-negara mapan.

Boss saya (orang India ) pernah cerita: suatu ketika teman-nya-sebut saja Sarukh dan keluarganya pamit pada boss saya pulang ke negara asalnya ? India yang murah meriah untuk menikmati pensiun dini, setelah 15 tahun kerja di Singapore . Eeeeeee? … belum satu tahun pamitan pulang ke India ? si Sarukh sudah balik lagi ke Singapore , dan kali ini minta bantuan Boss saya untuk dicariin kerjaan lagi di Singapore .

What happened? Tanya boss saya.

Sarukh bercerita, setelah pulang ke India , anak remajanya yang dibesarkan di Singapore menjadi rada-rada stress dan menjadi pasien tetap psikiaterdi sana . Selidik-punya selidik agaknya hal itu disebabkan karena Anaknya Sarukh tidak bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan dari kondisi yang sangat mapan ( Singapore ) ke kondisi yang sebaliknya (India).

Jadi, dalam hal ini, anak si Sarukh yang sudah biasa hidup dalam kemapanan tidak punya “kemampuan bertahan waras” untuk hidup di negara yang belum mapan. Demi kebaikan anaknya, akhirnya si Sarukh memutuskan menunda pensiun dini-nya dan kembali kerja di Singapore . Kalau kita-kita yang sudah biasa hidup susah di Jakarta , pindah or berkunjung ke India sih nggak ada masalah. Saya jadi ingat, 2 tahun lalu ketika saya dan rekan-2 kerja saya berkunjung ke India , boss saya wanti-wanti untuk : bawa obat sakit perut, dan selama di India hanya minum-minuman dari botol/kaleng.

Kalau ke restoran local jangan sekali-kali minum air putih yang disediakan dari dari Teko/ceret di restoran tersbut, karena Kebersihan Airnya tidak terjamin, dan biasanya perut orang asing tidak siap untuk itu; begitu nasehat boss saya.

Pada waktu itu satu rombongan yang berangkat ke India terdiri dari 5 orang. Satu orang Jepang dari Jepang, dua orang Singapore dan dua orang Indonesia (termasuk saya baru sebulan kerja di Singapore ). Dalam 2 minggu kunjungan ke India , kolega dari Singapore dan Jepang langsung menderita diare di Minggu pertama ke India , diselidiki, kemungkinan penyebabnya adalah mereka pernah memesan kopi atau teh di restoran local pada saat makan siang (yang tentunya tidak dari botol). Sementara si orang Jepang, walaupun secara ketat dia hanya minum-minuman botol atau kaleng selama makan di restoran-restoran lokal, terkena diare diduga karena si orang jepang ini menggunakan air keran dari hotel untuk berkumur-kumur selama sikat gigi.

Sedangkan saya dan satu orang rekan lagi dari Indonesia , sehat walafiat tidak menderita suatu apapun selama di sana (mungkin karena di Indonesia, sudah terbiasa jajan es dipinggir jalan yang mungkin airnya tidak lebih bersih dari air di restoran-restoran India )

What is the moral of the story?

Kita harus bangga karena Kita bisa lebih baik dari orang Jepang dan Singapore !!! ! (at least, dalam hal ketahanan perut).

Cerita lainnya lagi, bulan lalu saya di kirim kantor (yang base-nya di Singapore ) untuk mengikuti sebuah workshop di Rio de Janeiro Brazil. Total waktu trempuh saya dari Singapore ke hotel saya di Rio de Janeiro Brazil adalah 36 jam (termasuk 5 jam transit di Eropa).

Sebenarnya, dari Singapore ke Brazil , jalur yang paling umum dan cepat adalah ke arah Timur, transit di Amerika, terus ke Brazil . Dengan jalur ini saya perkirakan, dalam 26-30 Jam saya sudah bisa mencapai Brazil .

Cuma, karena saya orang Indonesia , untuk transit di Amerika pun saya butuh apply VISA Amerika, yang mana proses aplikasi visa tersebut memerlukan waktu sedikitnya 2 minggu.

Padahal, saya tidak punya waktu sebanyak itu. Alhasil, yah begitulah, saya harus memilih rute yang sebaliknya, mengeliling belahan bumi bagian barat, transit di Amsterdam , dengan waktu tempuhnya 6- 10 jam lebih lama. Jadinya, cukup melelahkan, tapi nggak apa-apa, namanya juga orang Indonesia , harus terbiasa dengan hal-hal yang susah-susah.

Saya sampai di hotel di Rio , hari minggu jam 11 Malam. Dan keesokan paginya saya langsung mengikuti workshop di sana . Walaupun masih terasa lelah, saya tetap berusaha untuk terlibat aktif dalam workshop pagi itu, dengan mengajukan pertanyaan atau memberi masukan atas pertanyaan peserta lainnya.

Pada saat istirahat, saya sempat berbincang-bincang dengan kolega-kolega dari Jerman peserta workshop itu. Beberapa dari mereka mengeluh kecapaian dan menderita “jet lag”, karena mereka telah menempuh 12 jam perjalanan dari Jerman, dan baru saja tiba di Brazil hari minggu siang, shg blm cukup waktu istirahat untuk adaptasi Jet lag, begitu keluh mereka.

Lalu, saya berkata pada mereka, bahwa sebenarnya mereka lebih beruntung dari saya, karena saya harus menempuh 36 jam perjalanan dari Singapore ,dan baru tiba di hotel pukul sebelas malem, kurang dari 12 jam sebelum workshop dimulai. Mereka tertegun, salah seorang dari mereka bertanya pada saya: “Tapi kamu naik pesawat, di kelas Bisnis khan?”

“Tidak, jatah saya Cuma kelas ekonomi”, jawab saya lagi.

Mereka terlihat semakin terkagum-kagum (atau kasihan?), dan salah seorang dari mereka memuji.

“Its very impressive, you guys Singaporean are really-really hardworkers”
“I’m not Singaporean, I’m Indonesian working in Singapore ” jawab saya dengan bangga.

Agaknya, hari itu saya menjadi cukup terkenal di kalangan kolega dari Jerman, hanya karena terbang selama 36 jam dari Singapore 12 jam sebelumnya dan masih bisa secara aktif mengikuti workshop tersebut.

Saya tahu kalau saya menjadi pembicaraan mereka , karena sewaktu makan malam, kolega dari jerman lainnya - yang saya tidak pernah ceritakan mengenai perjalanan saya dari Singapore bertanya pada saya tips and trick supaya bisa tetap segar setelah menempuh perjalanan begitu lama (ini berarti dia mendapatkan cerita saya dari kolega jerman lainnya).

Saya bingung jawabnya. Ingin sekali saya menjawab : “Berlatihlah dengan naik kereta api super ekonomi dari Jakarta ke Surabaya di saat-saat mendekati hari lebaran. Kalau Anda terbiasa dengan alat transportasi ini- di mana tidak hanya species “Homo Sapiens” yang bisa menjadi penumpangnya , dan di tambah lagi waktu tempuhnya yang lama sekali karena hampir di setiap setasion harus berhenti, maka Anda akan bisa menaklukkan semua alat transportasi terbang apapun yang di muka bumi ini”.

Namun, saya urungkan memberi jawaban di atas, karena saya khawatir dia tidak akan mengerti atas apa yang saya jelaskan, dan saya yakin mereka tidak bisa “survive” dengan alat transportasi ini, yang fasilitasnya tentu jauh dari kelas Bisnis pesawat terbang (Note : kolega saya dari jerman,otomatis mendapat fasilitas kelas bisnis di pesawat apabila waktu tempuhnya lebih dari 10 jam).

Seminggu, setelah saya pulang dari Workshop di Brazil, entah karena terkagum-kagum dengan “kemampuan hidup susah” (dari sudut pandang mereka) yang saya miliki, atau karena alasan lainnya, kolega saya dari Jerman yang saya temui di Brazil , menghubungi atasan saya yang intinya meminta saya untuk ditugaskan ke Jerman, membantu project yang saat ini sedang berjalan di sana .

Alhasil, bulan September ? November saya akan bergabung dengan kolega-kolega di Jerman menyelesaikan project di sana . Cukup membanggakan, karena, kata boss saya, ini kali pertama “Kantor Pusat” meminta bantuan dari kantor cabang untuk mensupport project yang sedang mereka kerjakan di kantor pusat.

Jadi setelah membaca tulisan ini, saya harap pembaca sekalian punya alasan semakin bangga menjadi orang Indonesia .

Kalau anda lagi di luar negeri dan ditanya “Anda dari mana?”

Jawablah dengan bangga:

Ya, Saya dari Indonesia ,

Negara yang lagi susah,

Saya juga hidupnya susah

Tapi saya bisa “survive”, Dan saya bangga karenanya!!!

Any Problem???

Sekali Merdeka tetap Merdeka !


2837 Comments
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com

Sebelum Kamu Mengeluh

01]. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, 
 Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali.
 
02]. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, 
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan. 
 
03]. Sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa,
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan. 
 
04]. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, 
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk
didalam hidupnya. 
 
05]. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri mu,
 Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan
teman hidup. 
 
06]. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu, 
 Pikirkan tentang seseorang yang meninggal  terlalu cepat.
 
07]. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, 
 Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak
tetapi dirinya mandul .
 
08]. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena 
pembantumu tidak mengerjakan tugasnya, 
Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan .
 
09]. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, 
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.
 
10]. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, 
Pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap
mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.
 
11]. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, 
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.
 
12]. Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan, 
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kita masih hidup ! 
a. Life is a gift…
b. Live it… 
c. Enjoy it… 
d. Celebrate it… 
e. And fulfill it…
18 Comments
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com

Sepekan setelah memasuki tahun 2008

Wow… it was a surprise for me… how stupid I am selama ini…
belajar… nggak pinter2… :-P menata hati & mengekang diri… nggak becus… :-D duuuhhh…. apa sih bisanya Nana ni…. :-P

Jadi… format aja kali ya hati & otak ini… meski udah tinggal dikit sisa-sisa ke-bego-an & ketidakberesan perasaan & pikiranku… kayaknya biar cepet… diformat aja deh nih bagusnya… jadi bisa disetting dr awal lagi… masih bersih… kosong… jadi… enak ngisinya… yg baek2 aja… yg berguna2 aja… mp3 nya juga dibanyakin… biar bisa nyanyi2… jadi… nggak bengong2 lagi… nggak stress2 lagi… hehehe…
Harddisk kaleee…. enak aja… :-P susah nih mau mulai awal yg baru… but… I have to… make a new start… and I swear it will be… ( dit… pinjem ya… :-D )

Ngomongin masalah hati & otak… perasaan & pikiran… paling susah mengkompromikan mereka berdua… otaknya bicara apa… hatinya bicara beda… banyak nggak nyambungnya deeehhhh… sering mereka nggak mau berjalan seiring..

Lebih ribet lagi kalo urusannya udah nyangkut masalah cinta… tanya deh ama Tarigan kalo nggak percaya… ya nggak Gan..?? :-P yg disini berusaha setia… yg disana ternyata mendua… surprise deh… (hihihihihi… surprise… bukan deeehhh… shock… lebih tepatnya…) waktu tau kenyataannya…
Terus mulai deh… suka murung… pikirannya dimana… hatinya kemana… Yaahh… gitu deh… repot kalo urusannya sama hati… perasaan…

18 Comments
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com

Hingga Butir Nasi Terakhir

Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya datang juga bis yang akan
membawaku keluar dari kota Jakarta yang semakin hari kurasakan
semakin sesak ini. Dua hari libur pada akhir pekan ini akan
kumanfaatkan untuk sekedar mengganti suasana, sekilas menghilangkan
pemandangan gedung bertingkat dengan tingginya pohon kelapa, udara
yang padat dengan racun, sejenak berganti udara yang masih sejuk
bila dihirup dalam-dalam, aku akan lupakan hitamnya kepulan asap
dari bis kota dengan warna hijau rerumputan dan pepohonan. Aahhh…
tak sabar aku, kenapa bis ini lama sekali ngetemnya…

Puji syukur….. akhirnya bis mulai bergerak. Ternyata cukup banyak
juga orang yang akan bepergian hari ini. Entah karena ingin mencari
suasana baru sepertiku, atau memang hal ini sudah rutin mereka
lakukan. Atau mungkin rumah mereka memang di luar kota, mencari
nafkah di Jakarta, sehingga harus rela pulang-pergi tiap hari.

Sejam-dua jam, nuansa yang kunantikan mulai terlihat. Hamparan
sawah terbentang luas di sisi kanan bis yang aku tumpangi ini.
Hey… tapi kenapa warnanya sayu begitu? Dari sekian luas sawah
yang kulihat, hampir seluruhnya berwarna kecoklatan. Hanya sedikit
saja yang masih menampakkan warna hijau segar. Dampak kekeringan
beberapa bulan terakhir betul-betul kulihat saat ini.

“Kasihan Pak Tani ya dik….”, tiba-tiba Bapak yang duduk di
sebelahku berkomentar. Segera kualihkan pandanganku pada penumpang
yang membuatku kaget ini. Seorang bapak yang sudah cukup umur,
rupanya. Kutaksir usianya sekitar 50 tahunan, terlihat dari guratan-
guratan lelah di wajahnya.

“Iya Pak, kasihan”, jawabku. “Mereka sudah capek-capek menanam,
ternyata panennya gagal karena kekeringan”.

“Bukan itu maksud bapak dik,” ujar si bapak sambil
memandangku. “Bukan kekeringan itu yang bapak kasihani dari para
petani itu.”

Lho? Bukan kekeringan? Lalu apa?

Seakan menyadari kebingunganku, si bapak melanjutkan
bicaranya. “Begini. Kalau kekeringan, bagi para petani hal itu
sudah biasa mereka hadapi. Mereka tahu betul resiko itu.”

Sejenak si bapak terdiam. Aku makin tak sabar menunggu
penjelasannya.

“Bapak sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di sebuah restoran
sebagai petugas kebersihan, dik. Selama bapak bekerja, semakin
bapak sadar bahwa kita sering sekali menyepelekan pekerjaan para
petani itu. Kita sama sekali tidak menghargai jerih payah mereka
mencangkul sawah seharian, memupuki tanaman padi, merawatnya supaya
kelak menghasilkan padi yang baik…” jelasnya.

Aku masih saja tak menangkap maksud pembicaraan ini. “Tidak
menghargai bagaimana pak?”

“Setiap hari, restoran tempat bapak bekerja menghabiskan ratusan
kilogram beras, untuk ditanak menjadi nasi. Setiap hari pula bapak
harus rela menyaksikan berpuluh kilogram nasi yang dibuang begitu
saja, karena para tamu tidak menghabiskannya. Saat membuang nasi
itu, hati bapak miris, dik. Berulang-ulang bapak mohon ampun pada
Gusti Allah. Berkali-kali bapak mengucap istighfar, karena bapak
melihat sebuah kesia-siaan, satu bentuk pengingkaran nikmat yang
luar biasa. Kadang-kadang, Bapak membayangkan mendengar tangisan
butiran-butiran nasi itu, seperti yang Bapak sering ajarkan pada
anak bapak, kalau tidak menghabiskan makannya…”

Aku tercekat. Entah kenapa wajahku serasa ditampar keras sekali.

“Saat itulah terlintas di pikiran bapak, wajah para petani yang
bermandi peluh, sekujur badan hitam legam terbakar sinar matahari,
tidak sedikit tenaga mereka terkuras untuk mencangkul sawahnya. Tak
lain tak bukan mereka lakukan itu supaya mereka bisa memenuhi
kebutuhan makanan bagi semua orang dan juga kebutuhan mereka
sendiri, dik. Tapi ternyata, kita yang tinggal enaknya saja, tak
perlu membanting tulang seperti itu, sama sekali tidak menghargai
kerja keras para petani itu. Kita sama sekali tidak mau menghargai
setiap butir nasi yang kita makan. Menyia-nyiakan nasi, sudah
menjadi hal yang biasa saja bagi kita.”

Kini aku yang terdiam. Apa yang disampaikan si bapak, itulah yang
kulakukan setiap hari. Ya, menyisakan nasi di piring seakan sudah
menjadi hal yang biasa bagiku. Bahkan jika ada yang makan sampai
piringnya bersih tak tersisa, berbagai julukan menghujaninya. Rakus
lah, doyan lah, dan ejekan lain yang sungguh memalukan, tanpa
mereka sadari, siapa sebenarnya yang memalukan.

“Dik…” si bapak menepuk bahuku, membuyarkan lamunanku. “Bapak
turun sebentar lagi.”

“Ohya Pak… hati-hati Pak… dan terimakasih nasihatnya.. ” jawabku
sambil menjawab uluran tangannya. Senyum renyahnya mengakhiri
pertemuan kami hari itu. Sesaat kemudian bis berhenti, dan si bapak
bergegas turun. Saat itulah aku sadar kalau aku belum menanyakan
namanya. Ah… bapak itu juga tidak menanyakan namaku, ujarku dalam
hati.

Tak lama berselang, bis berhenti di sebuah rumah makan yang cukup
besar. Rasa lapar mendadak menyerangku. Tiga jam perjalanan sudah
kulalui, dan perut ini ternyata sudah mulai bergerak meminta
bagiannya. Aku dan beberapa penumpang lainnya bersama-sama memasuki
rumah makan. Kupilih tempat duduk dekat jendela, dan memesan
makanan, yang dalam waktu singkat telah siap disantap.

Saat hendak memulai makan dan melihat nasi di piring, dan nasihat
si bapak di bis tadi kembali terngiang. Bergantian kupandangi nasi
dan hamparan sawah melalui jendela restoran. Saat itulah aku
bersyukur. Melalui si bapak itu, Allah telah berkenan untuk
menegurku, bukan hanya karena aku tak tahu, pada butir nasi yang
mana berkahNya akan diturunkan, bukan pula hanya karena salah satu
perwujudan rasa syukur atas karunia dan rizkiNya. Namun
menghabiskan hidangan yang ada, hingga butir nasi yang terakhir,
merupakan salah satu cara kita berterima kasih pada para petani,
yang tanpa kenal lelah, telah berusaha mempersembahkan hasil kerja
terbaiknya pada kita. Tanpa keras keras mereka, sulit bagi kita
untuk bisa menikmati nasi yang pulen dan lezat ini.

Sungguh, suatu cara yang mudah untuk menghargai jerih payah dan
segala letih lelah mereka, yaitu dengan menghabiskan hidangan tanpa
sisa. Bukan rakus, bukan kemaruk, bukan pula kelaparan.

Selamat makan ….

21 Comments
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com

Ginting

Ginting, seorang profesional asal Medan yang agak
tuli….  baru pertama kali datang ke Jogja. Pada suatu
hari ia ingin sekali minum minuman khas daerah
Jogja, yaitu dawet (cendol).

Ginting : Mbak, beli dawetnya…
Mbak : Sampun telas mas…

Ginting : Iya, memang harus pake gelas…
Mbak : Mboten wonten mas…

Ginting : Betul… memang saya suka pake santen…
Mbak : (Dengan nada kesal) Dasar sinting !!!

Ginting : Lho, koq tau nama saya Ginting…?
Mbak : (Tambah kesal) Dasar wong edan…

Ginting : Wah mbak betul lagi… saya memang dari
Medan !
Mbak : (Sambil menggerutu) Dasar wong ora duwe
otak..!!

Ginting : Benar… benar… saya orang Batak !
Mbak : Dasar budeg ….!!!!

Ginting : Selain cendol saya memang suka gudeg mbak…
Mbak : Sampeyan kok kurang kerjaan to ?

Ginting : Benar sekali mbak, teman-teman saya
memang semua kurang kerjaan, tulisan kayak gini ini
juga dibaca sampai habis !

19 Comments
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com

Catatan Akhir Tahun 2007

Beberapa menit sebelum tahun 2007 berakhir… aku masih belum bisa menata hatiku untuk menyambut tahun 2008… Merasa bodoh… tak berguna… kecewa pada diri sendiri.. dan berbagai macam perasaan bercampur aduk di hati…

Renungan yg dibacakan babap… membuat aku merasa semakin bodoh…

Namun ketika pagi pertama di tahun 2008 menjelang… ketika rasa syukur coba dipanjatkan… terucap pula harapan2 yg dimohonkan… agar Yang Maha Kuasa… memberikan kekuatan… keteguhan hati… untuk dapat membuat diri ini lebih baik lagi…

Dan… terimakasih Tuhan… seiring sirnanya pagi… perasaanku mulai membaik… semangat untuk menyongsong tahun yg baru dg hati yg baru… mulai menyala…

Jadi… selamat datang Tahun 2008… semoga di tahun ini… kehidupan, kesehatan, kebahagiaan, kemakmuran, rejeki… dan kedekatan kita dg Tuhan… akan lebih baik lagi… Amin…

-Nana-

17 Comments
taintedsong.com taintedsong.com taintedsong.com